Setelah melalui verifikasi dan penilaian oleh tim ahli, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya menetapkan 77 karya budaya yang telah didaftarkan sebagai Warisan Budaya TakBenda Nasional Indonesia. Enam diantaranya telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Indonesia yang diakui oleh UNESCO. Berikut karya budaya yang telah ditetapkan:
1. Wayang Indonesia
Wayang telah diakui oleh UNESCO sebagai daftar perwakilan Warisan
Budaya Takbenda dari Indonesia pada tahun 2008. Wayang adalah salah satu
seni pertunjukan rakyat yang masih banyak penggemarnya hingga saat ini.
Pertunjukan wayang dimainkan oleh seorang dalang dengan menggerakkan
tokoh-tokoh pewayangan yang dipilih sesuai dengan cerita yang dibawakan.
Cerita-cerita yang dipilih bersumber pada kitab Mahabarata dan Ramayana
yang bernafaskan kebudayaan dan filsafat Hindu, India, namun telah
diserap ke dalam kebudayaan Indonesia. Dalam setiap pegelaran, sang
dalang dibantu para swarawati atau sindhen dan para penabuh gamelan atau
niyaga, sehingga pertunjukan wayang melibatkan banyak orang. Di
Indonesia, Wayang telah menyebar hampir keseluruh bagian wilayah
Indonesia. Jenis-jenisnya pun beragam yang diantaranya adalah : Wayang
kulit Purwa, Wayang Golek Sunda, Wayang Orang, Wayang Betawi, Wayang
Bali, Wayang Banjar, Wayang Suluh, Wayang Palembang, Wayang Krucil,
Wayang Thengul, Wayang Timplong, Wayang Kancil, Wayang Rumput, Wayang
Cepak, Wayang Jemblung, Wayang Sasak (Lombok), dan Wayang Beber.
2. Keris Indonesia
Keris adalah benda budaya yang eksotik dan original. Ini merupakan
‘karya seni’ sekaligus ‘benda budaya’ asli Nusantara. Budaya keris
terbentang dari Ujung pulau Sumatra di barat, Semenanjung Siam dan Sulu
di Utara, Gugusan kepulauan Maluku di Timur dan Kepulauan Nusa Tenggara
di Selatan. Keris menjadi identitas pengikat yang mendorong rasa
kebangsaan itu tumbuh subur di Nusantara. Pada tahun 2005, Keris
Indonesia telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia .Keris merupakan senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya memiliki pamor (serat-serat lapisan logam cerah) pada helai bilah. Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Saat ini, penggunaan keris lebih banyak sebagai ornamen pelengkap dalam berbusana adat. Sebagai produk kebudayaan, keris mengandung sejumlah nilai luhur kebudayaan pembuatnya yang disimbolkan dalam berbagai bagian keris. Selain itu, keris juga marak menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.
3. Batik Indonesia
Pada dasarnya, batik merupakan seni lukis yang menggunakan canting
sebagai alat untuk melukisnya. Canting sendiri merupakan sebuah alat
berbentuk mangkok kecil yang terbuat dari tembaga dan memiliki carat
atau monong, dengan tangkai dari bambu atau kayu yang dapat diisi malam (lilin) sebagai bahan untuk melukis. Canting ini dapat membuat kumpulan garis, titik atau cecek yang pada akhirnya membentuk pola-pola. Pola-pola inilah yang kemudian menjadi ragam hias dalam kesenian Batik.Membatik telah diwariskan secara turun temurun hingga saat ini. Dengan pola tradisional ini, sejak dahulu masyarakat menuangkan imajinasi melalui gambar pada batik. Masyarakat juga telah mengenal seni pewarnaan tradisional dengan bahan-bahan alami sebelum mengenal pewarnaan dengan bahan kimia. Batik yang tersebar hampir diseluruh Indonesia memiliki bentuk ragam hias yang berbeda-beda diantara satu dan lainnya. Pada tahun 2009, Batik diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia.
4. Angklung
Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari
bambu dan dibunyikan dengan cara digoyangkan. Alat musik ini berasal
dari Tanah Sunda. Kata Angklung berasal dari Bahasa Sunda “angkleung-angkleungan”
yaitu gerakan pemain Angklung dan suara “klung” yang dihasilkannya.
Secara etimologis, Angklung berasal dari kata “angka” yang berarti nada
dan “lung” yang berarti pecah. Jadi Angklung merujuk nada yang pecah
atau nada yang tidak lengkap. Setiap angklung akan menghasilkan nada
yang berbeda, sehingga setiap penampilan membutuhkan lebih dari satu
angklung. Sedikitnya delapan nada dihasilkan oleh angklung. Angklung
telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia
pada tahun 2010.
5. Tari Saman Gayo dari Nanggroe Aceh Darussalam
Saman adalah salah satu kesenian tradisional yang tumbuh dan
berkembang pada masyarakat Gayo di Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara,
Aceh Timur (Kecamatan Serbejadi), Kabupaten Aceh Tamiang (Tamiang Hulu).
Saman merupakan permainan tradisi yang biasa dilakukan oleh laki laki
yang umumnya usia muda untuk mengisi waktu luangnya. Baik pada saat di
sawah, mersah, sepulang mengaji di rumah pun mereka menyempatkan diri
berlatih Saman. Permainan Saman menjadi sebuah seni pertunjukan yang
sering dipentaskan sebagai media silaturahmi, menjalin persahabatan,
penyampaian pesan-pesan moral, pantun muda-mudi, penggambaran alam dan
lingkungan sekitar, dan sebagainya. Tari Saman diakui oleh UNESCO
sebagai Warisan Budaya Takbenda yang membutuhkan pelindungan mendesak
dari Indonesia pada tahun 2011.
6. Noken dari Papua
Noken Papua adalah hasil daya cipta, rasa dan karsa yang dimiliki
manusia berbudaya dan beradat. Walaupun Noken berbentuk seperti halnya
tas yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan berbagai macam benda
dan peralatan, namun masyarakat Papua sendiri tidak menyebut noken
sebagai tas. Bagi masyarakat Papua, Noken memiliki perbedaan yang sangat
signifikan dengan tas yang diproduksi pabrik, baik secara bahan, jenis,
model maupun bentuk Noken. Pada tahun 2011 Noken Papua dinobatkan oleh
UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia yang membutuhkan
pelindungan mendesak.
7. Tenun Ikat Sumba
Kain tenun ikat
adalah kain tenun yang pembuatan motifnya menggunakan teknik ikat.
Teknik ikat dilakukan dengan bagian-bagian tertentu dari benang, dengan
maksud agar bagian-bagian yang terikat itu tidak terwarnai ketika benang
dimasukkan kedalam cairan pewarna. Bagian-bagian yang diikat telah
diperhitungkan sedemikian rupa, sehingga setelah ditenun akan membetuk
motif-motif yang sesuai dengan yang diinginkan. Pemerintah Indonesia
sedang dalam proses mengajukan Tenun Ikat Sumba ke UNESCO untuk
ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia.
8. Rencong dari Nanggroe Aceh Darussalam
Rencong adalah simbol keberanian dan kegagahan ureueng Aceh. Bagi
siapa saja yang memegang senjata akan merasa lebih berani di dalam
menghadapi musuh. Pada masa sekarang, senjata ini memang sudah tidak
begitu relevan untuk digunakan sebagai senjata penyerang. Namum
demikian, senjata ini masih relevan sebagai sebuah simbolisasi dari
keberanian, ketangguhan, dan kejantanan dari masyarakat Aceh. Untuk itu,
pada beberapa upacara (seperti upacara pernikahan) rencong dipakai.
Pemakaian benda ini lebih mengarah kepada simbolisasi dari keberanian
dari seorang lelaki dalam memimpin keluarga setelah menikah.
9. Tari Tor tor dari Sumatera Utara
Tari Tor tor merupakan tarian yang berasal dari Sumatera Utara. Tor-Tor
pada awalnya bukanlah suatu tarian, tetapi sebagai pelengkap gondang
(uning-uningan) yang berdasarkan kepada falsafah adat itu sendiri. Di
dalam upacara-upacara adat di Mandailing dimana uning-uningan dibunyikan
(margondang), selalu dilengkapi dengan acara manortor. Pada awalnya manortor hanya diadakan pada acara-acara adat margondang, namun dalam perkembangan selanjutnya manortor ini juga sudah dilakukan pada acara-acara hiburan dengan cara memodifikasi tor-tor sedemikian rupa agar lebih menarik bagi penonton yang dalam perkembangannya mengarah menjadi tarian.
10. Gordang Sembilang dari Sumatera Utara
Sesuai dengan namanya Gordang Sambilan terdiri dari sembilan buah
gendang dengan ukuran yang relatif besar dan panjang. Adapun kesembilan
gendang tersebut mempunyai ukuran yang berurutan dari yang besar ke
ukuran yang paling kecil. Gordang Sambilan dikenal pada masa sebelum
Islam yang mempunyai fungsi untuk upacara memanggil roh nenek moyang
apabila diperlukan pertolongannya. Upacara tersebut dinamakan paturuan
Sibaso yang berarti memanggil roh untuk merasuki/menyurupi medium
Sibaso). Tujuan pemanggilan ini adalah untuk minta pertolongan roh nenek
moyang untuk mengatasi kesulitan yang sedang menimpa masyarakat.
Misalnya penyakit yang sedang mewabah karena adanya suatu penularan
penyakit yang menyerang suatu wilayah. Di samping itu Gordang Sambilan
juga digunakan untuk upacara meminta hujan (mangido udan) agar hujan
turun sehingga dapat mengatasi kekeringan yang menganggu aktivitas
pertanian. Juga bertujuan untuk menghentikan hujan yang telah
berlangsung secara terus menerus yang sudah menimbulkan kerusakan .














0 komentar:
Posting Komentar