Judi Online Uang Asli Agen Judi Bola

Sabtu, 27 Februari 2016

Bali Siap Helat Festival Barong 2016


 redwinbet.com

Bali akan menggelar Festival Barong 2016 di Taman Budaya Denpasar, 22 hingga 23 Januari, guna mendukung barong ket, salah satu tarian di Bali yang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO.

Peserta sebanyak 54 peserta yang terdiri atas 19 penari barong buntut dan 35 penari barong ket, demikian kata Bagus Mantra, dari Pregina Art & Showbiz Bali, kepada jurnalis media, di Denpasar, Minggu (17/1).

Kegiatan itu bisa berlangsung secara berkesinambungan setiap Januari sebagaimana harapannya dan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali serta Ketut Mariatha dari Seka Kubu Barong.

Meskipun kesenian barong ket telah mendapat pengakuan dunia internasional, menurut Bagus Mantra, jenis tarian itu mesti tetap dikembangkan dan dijaga kesinambungannya.

Pregina Art & Showbiz Bali, kata dia, mendukung kegiatan tersebut yang menjalin kerja sama dengan Seka Kubu Barong untuk menggelar Bali Barong Festival 2016 di Taman Budaya Denpasar.

Kolaborasi festival tersebut sejatinya diawali karena pihaknya sangat senang dengan bapang barong. Kebetulan Seka Kubu Barong mempunyai keinginan untuk menggelar festival barong.

Dengan demikian, lanjut dia, menjadi sebuah hal yang menarik karena Pregina Festival merupakan sesuatu yang baru dan bersifat pelestarian.

“Kami bukan ingin berkompetisi. Kami berharap makin banyak ‘Seka Demen’ melakukan festival serupa sehingga kesenian Bali, terutama bebarongan tetap ajek, lestari. Itu sebenarnya gagasan dasar karena senang,” kata Bagus Mantra.

Upaya kolaborasi antara Pregina dan Seka Kubu Barong disambut baik oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Disbud Bali menyiapkan tempat di Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar karena lokasi dianggap cocok untuk mendukung upaya pelestarian, khususnya tari barong yang baru saja ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO.

“Untuk membuka kegiatan pada tahun 2016, bagaimana kita bisa membuat gebrakan pertunjukan sekaligus pelestarian budaya. Jadi, apa yang kita lakukan juga mendukung upaya pelestarian yang dilakukan pemerintah,” kata Bagus Mantra.

Dalam kegiatan tersebut sekaligus ditampilkan karya seniman, pelukis, kartunis, dan fotografer dengan tema Barong. Festival berlangsung mulai pagi hingga malam.

Ketut Mariatha dari pihak Seka Kubu Barong mengharapkan pelaksanaan festival berkesinambungan setiap Januari sesuai dengan harapan Pemerintah Provinsi Bali.

Dialog Sastra Bali Modern Dihelat pada Sabtu di Gianyar



 redwinbet.com
Bentara Budaya Bali (BBB), lembaga kebudayaan nirlaba Kompas-Gramedia di Ketewel, Kabupaten Gianyar menggelar ‘dialog seputar sastra Bali modern dan anugerah Rancage’.

“Kegiatan yang akan digelar Sabtu (30/1) menampilkan dua pembicara yakni sastrawan I Gede Gita Purnama dan pemerhati sastra I Gede Gita Purnama akan berbagi pandangannya seputar buku ‘Ngurug Pasih’ yang meraih Hadiah Sastra Rancage tahun 2015,” kata kata Penata Acara tersebut Juwitta K. Lasut, kepada wartawan, di Denpasar, Kamis (28/01).

Dialog yang melibatkan seniman, budayawan dan berbagai elemen masyarakat mengulas perihal peranan dan posisi hadiah Sastra Rancage dalam kehidupan sastra berbahasa Ibu di Indonesia, khususnya sastra Bali modern.

Putra Ariawan juga akan berbagi proses kreatifnya menulis buku kumpulan cerpen Ngurug Pasih (menimbun laut).

Sastrawan yang juga pengajar di SMA Negeri 1 Kediri Tabanan, I Gede Putra Ariawan, telah menekuni proses penulisan kreatif semenjak menempuh studi di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Perguruan Tinggi Undiksha, Singaraja (2006-2010).

Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, opini, dan artikel pendek pernah dimuat di majalah Ekspresi, Satua, dan Bali Post. Buku perdana yang diterbitkan berupa kumpulan cerpen berbahasa Bali Ngurug Pasih (menimbun laut) mendapat penghargaan Sastera Rancage 2015 dari Yayasan Kebudayaan Rancage di Bandung.

“Ngurug Pasih” (Menimbun Laut) terbit 2014 (Pustaka Ekspresi) memuat 15 cerpen berbahasa Bali: Ajeg Bali, Kekupu, Museum, Engkebang Bulan, Kado, Kode Alam, Ngurug Pasih, Padine Mentik di Tanah Wayah, Pekak Kaung, Sanggah, Car Free Night, Taluh Semuk, Kaliwat Tresna, JKBM, dan Langsung Sing Langsung.

Ke-15 cerpen dalam buku Ngurug Pasih sebagian besar bertema sosial yang menekankan pada satire atas gejala-gejala sosial masyarakat Bali. Cerpen Ngurug Pasih misalnya, menggambarkan penjualan habis tanah-tanah di Bali untuk villa dan bangunan-bangunan pariwisata.

Cerita ini juga menggambarkan adanya peubahan-perubahan nilai akibat globalisasi, antara menjaga kearifan lokal Bali dengan nilai-nilai baru yang akibat hadirnya pariwisata selama ini.

Sementara itu, pemerhati sastra, I Gede Gita Purnama, akan mengulas seputar buku Ngurug Pasih, namun juga mempertajam gagasan perihal peranan anugerah sastra Rancage dalam perkembangan sastra Bali modern, termasuk mendorong lahirnya karya-karya sastra berbahasa Ibu, tak terkecuali bahasa Bali.

Selama ini, I Gede Gita Purnama aktif dalam berbagai upaya pelestarian bahasa Bali, termasuk bergabung dalam Aliansi Peduli Bahasa Bali, sebuah organisasi sosial yang bergerak dalam bidang pelestarian dan pengembangan Bahasa Bali.

Selain menjadi kontributor rubrik berbahasa Bali di Bali Orti (koran Bali Post) dan Media Swari (Pos Bali), ia juga editor serta penulis dalam beberapa buku diantaranya, “Dendang Denpasar Nyiur Sanur” (kumpulan puisi), “Denpasar lan Don Pasar” (Kumpulan puisi), “Wayan Bratha, Seniman Kelas Dunia” (biografi seniman Bali), “Angripta Rum” (Kumpulan cerpen bahasa Bali), “Smara Reka” (kumpulan puisi bahasa Bali). Alumnus Fakultas Sastra Universitas Udayana ini kini juga merupakan pengajar di IHDN (Institut Hindu Dharma Negeri) Denpasar.

70 Juta Masyarakat Adat Kecewa dengan DPR dan Presiden Jokowi


 redwinbet.com

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menagih janji Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) setelah Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat (PPHMA) gagal masuk daftar prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2016.

Sekretaris Jenderal AMAN Abdon Nababan di Jakarta, Kamis (28/01), mengatakan, AMAN dan 70 juta masyarakat adat sangat kecewa atas hasil Sidang Paripurna ke-17 DPR, Selasa (26/7) lalu, yang tidak mengakomodir RUU PPHMA dalam daftar prioritas Prolegnas 2016.

“Kami akan terus berusaha melalui berbagai jalur yang tersedia. Kami akan secepatnya membicarakan hal ini dengan Menteri Hukum dan HAM agar pemerintah bersedia segera membahas RUU PPHMA ini sesuai Nawacita,” kata ia, kepada wartawan.

Sebelum menjadi presiden, menurut Abdon, Jokowi pernah bertemu AMAN dan berjanji mengupayakan UU tentang masyarakat adat untuk menghadirkan kembali negara untuk melindungi masyarakat adat. Kemudian hal tersebut disampaikan kembali Presiden saat AMAN melakukan audiensi ke Istana Negara pada 21 Juli 2015.

“Kehadiran UU tersebut juga akan menjadi bukti perwujudan dari Nawacita yang merupakan sembilan program prioritas Jokowi,” kata Abdon.

Nawacita yang berhubungan dengan masyarakat adat ada di poin satu yang menyebutkan upaya menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara. Kemudian poin tiga berupa membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, demikian kata ia.

AMAN telah memperjuangkan adanya RUU PPHMA sejak 2011. Masyarakat Adat di berbagai wilayah Indonesia telah melakukan banyak diskusi untuk membahas RUU ini pada 2011–2012.

Pada 2013 DPR resmi mengusulkan RUU PPHMA sebagai RUU inistiatif DPR dan melakukan konsultasi publik yang ekstensif di tujuh region di Indonesia dan di tingkat nasional. Dan pada 2014 RUU PPHMA sudah dibahas hingga tingkat I antara DPR dan pemerintah.

Upaya mendesakkan RUU PPHMA terus berlanjut hingga kembali menjadi agenda Prolegnas periode 2015–2019. Namun kemudian RUU PPHMA akhirnya gagal masuk dalam prioritas Prolegnas tahun 2015 dan 2016.

Dalam pembahasan di Badan Legislasi (Baleg) dan Sidang Paripurna DPR hanya Fraksi Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa yang mendukung RUU PPHMA masuk dalam Daftar Prioritas Proglenas, kata Abdon menambahkan.

Budaya dan Seni Zaman Dulu Dihadirkan di ‘FMD’ Malang


 redwinbet.com

Budaya, seni, dan jajanan serba kuno alias zaman dulu bakal dihadirkan di Kota Malang, Jawa Timur, dalam Festival ‘Malang Doeloe (FMD)’ pada 7-8 Februari 2016 di kawasan Jalan Simpang Ijen kota tersebut.

Ketua Pelaksana FMD Ani Setyowati di Malang, Jumat (29/01), mengatakan ‘FMD’ tersebut mengusung konsep perpaduan nilai masa lalu Kota Malang serta pergelaran seni dan budaya.

“Pagelaran ini kami buat untuk mengobati rasa kangen masyarakat di Kota Malang akan pertunjukan seperti Malang Tempo Doeloe (MTD) yang tidak digelar dalam beberapa tahun terakhir ini,” katanya, kepada jurnalis media.

Ia mengatakan, bahwa dalam pergelaran yang diadakan di Jalan Simpang Ijen sepanjang sekitar 500 meter itu, akan ada 107 stan bazar, pertunjukan di panggung seni, “stand booth” bernuansa kuno, dan area bermain permainan lawas.

Oleh karena adanya perbedaan beberapa konsep itulah, membuat dirinya optimistis pergelaran FMD tak perlu meminta izin pada managemen MTD.

Meskipun demikian, ia tak menyangkal bahwa ada beberapa kemiripan terutama pada konsep penghadiran suasana tempo dulu di acara itu.

Menyinggung persiapan pergelaran, Ani mengatakan sudah mencapai 75 persen dan tinggal merealisasikan. Persiapan stan bazar, perizinan dari pihak terkait, seperti Dinas Perhubungan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dan kepolisian.

“Kami meminta izin pada Disbudpar, namun tidak ada kerja sama karena pergelaran ini murni inisiatif kami sendiri,” ucapnya.

Ani optimistis FMD tak kalah meriah dengan MTD. Indikasinya, minat para peserta yang cukup tinggi, bahkan sewa stan bazar pada pergelaran itu sudah ludes pada H-17. Permintaan untuk memeriahkan pentas atau panggung hiburan juga meningkat.

Sebenarnya, kata Ani, konsep awal pentas seni dan budaya pada FTD nanti akan ada jeda waktu dua jam untuk istirahat, namun karena permintaan tampil dalam pertunjukan budaya dan seni yang cukup tinggi, panitia akhirnya memangkas waktu istirahat agar semua peserta bisa tampil.

Dalam pertunjukan itu, katanya, bukan hanya seni dan budaya kuno yang bakal ditampilkan, tetapi panitia juga menyediakan tempat bagi para peserta yang ingin membawakan seni masa kini.

Ia menjelaskan perpaduan budaya dan seni masa kini juga akan diusung serta pertunjukan budaya dari luar Kota Malang juga akan ditampilkan sebagai pelengkap.

“Sebelumnya memang ada informasi melalui brosur bahwa kegiatan ini digelar pada 16-17 Januari 2016. Kami hanya ingin menginformasikan bahwa brosur itu ada kesalahan pembuatan, namun telanjur tersebar di media sosial. Pertunjukan yang sesungguhnya baru digelar pada pekan depan,” ujar ia menutup pembicaraan.

Sejumlah Kreator Yogyakarta Helat Pameran di Bali


 redwinbet.com

Sejumlah kreator lintas bidang dari Yogyakarta yang menyebut diri “Bol Brutu” (atau Gerombolan Pemburu Batu) menggelar pameran bersama di Bali menampilkan karya mengusung tema “Abhayagiri: Situs-Situs Marginal di Pegunungan’.

“Pameran bersama itu digelar di Bentara Budaya Bali (BBB), lembaga kebudayaan nirlaba Kompas-Gramedia di Ketewel, Kabupaten Gianyar selama dua minggu, 8-20 Februari 2016,” kata Penanggungjawab teknis pameran tersebut, Putu Aryastawa, kepada wartawan, di Denpasar, Jumat (5/2).

Kelompok Bol Brutu Yogyakarta terdiri atas perupa, akademisi, peneliti, pengamat sosial budaya. Mereka antara lain Kris Budiman, Putu Sutawijaya, Apriadi Ujiarso, Boen Mada, Cuk Riomandha, Darwi Made, Edy Hamzah, Ida Fitri, Linggar Saputra Wayan, Ninuk Retno Raras, Nur Cahyati Wahyuni, Vembri Waluyas, Wahu dan Wiedy Aditantra.

Menurut Kris Budiman, salah seorang peserta marginalitas dapat dibatasi sebagai kondisi petilasan yang relatif masih terpinggirkan atau tersingkirkan.

Dimensi spesialnya terutama dilihat dari lokasinya yang relatif masih sulit dijangkau atau jaraknya yang jauh dari pusat, yakni pusat ekonomi, politis, maupun pusat perkembangan arus-utama yang lain.

“Pameran yang digelar kali ini merupakan sebuah upaya untuk mengapresiasi situs-situs purbakala yang termarjinalkan dan belum mendapatkan apresiasi semestinya,” ujar Kris Budiman yang juga akademisi Universitas Gadjah Mada.

Situs-situs dari zaman klasik (Abad VIII-XV) menjadi fokus pameran yang berlangsung di Pulau Dewata hingga 20 Februari 2016.

Adapun tajuk “Abhayagiri”, yang bermakna gunung atau bukit yang damai, meminjam nama Situs Ratu Boko di Yogyakarta, sebagaimana disebutkan dalam sebuah prasasti bertarikh 792 M yang mengungkap, peristiwa pembangunan sebuah bangunan suci di atas bukit, Abhayagiri Vihara, oleh Rakai Panangkaran.

Dengan demikian, frasa selengkapnya dapat dimaknai sebagai “vihara di atas bukit yang damai, bebas dari bahaya”. Melalui logika metonimik, substansi vihara ini dapat diganti dengan candi atau situs kepurbakalaan, sementara giri, tepatnya “Abhayagiri”, yakni mewakili kawasan atau suasana pegunungan.

“Abhayagiri” bukanlah eksibisi perdana dari kelompok yang didirikan oleh Kris Budiman, Cuk Riomandha, Ery Jabo dan Putu Sutawijaya, sebelumnya Bol Brutu telah menyelenggarakan berbagai pameran seperti How Brutu Are You, Bergana Boleh Saja yang digelar di berbagai kota.

Kelompok ini juga sempat merilis buku bertajuk Arca dan How Brutu Are You.

Pameran tersebut senafas dengan semangat kuratorial Bentara Budaya yang memberi ruang kepada seni-seni atau program kultural klasik, tradisi maupun modern yang terpinggirkan atau belum memperoleh apresiasi serta publikasi semestinya, sebagaimana dilakukan oleh Bol Brutu dalam pameran kali ini, ujar Putu Aryastawa menutup pembicaraan.

Berbagai Kesenian Meriahkan ‘Mangayubagya Jumenengan’ PA X


 redwinbet.com

Berbagai kesenian tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta ditampilkan di Alun-alun Sewandanan Pura Pakualama, pada Sabtu (6/2), untuk memeriahkan acara Pentas Mangayubagya Jumenengan Dalem Paku Alam X.

Ketua Panitia Pentas Mangayubagya Widihasto Wasana Putra, di sela acara itu mengatakan, pentas itu murni diselenggarakan masyarakat sebagai wujud “mangayubagya” atau menyambut penobatan Paku Alam (PA) X pada 7 Januari 2016 lalu.

“Pentas ini murni inisiatif masyarakat sendiri dengan berbagai komunitas kesenian sebagai tanda cinta kepada Paku Alam X,” kata Widihasto, kepada wartawan.

Kesenian tradisional yang ditampilkan di antaranya Sendratari Kolosal Reyog Wayang yang mulai dipentaskan oleh Karang Taruna “Tunas Karang Kemuning” Kulonprogo sebagai pembuka Pentas Mangayubagya Jumeneng Dalem Paku Alam (PA) X.

Acara selanjutnya diikuti dengan penampilan kesenian tradisional lainnya dari Kabupaten Bantul, Sleman, serta Gunung Kidul seperti Reyog Prajuritan, Jathilan, macapat, dan ditutup dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.

Menurut Hasto, keseni tradisional menjadi pilihan untuk merayakan jumeneng atau dinobatkannya PA X karena sejak dahulu kesenian itu memang memiliki hubungan yang erat dengan Pura Pakualaman maupun Keraton Ngayogyakarta sebagai pusat kesenian tradisional.

“Seni tradisi memiliki posisi serta nilai yang penting dalam budaya Jawa,” kata dia.

Selain beragam seni tari kolosal, menurut Hasto, seni tembang macapat juga disisipkan dalam pentas tersebut. Macapat, kata dia, sengaja dipilih sebagai bagian dari seni tradisi yang memuat religiusitas kehidupan manusia.

“Tembang macapat isinya puji-pujian terhadap Tuhan serta do’a agar kehidupan manusia yang fana tetap berjalan baik,” kata dia.

Sementara itu, untuk pementasan wayang kulit lakon yang dipilih adalah Semar Bangun Khayangan yang dibawakan oleh dalang Ki Simun Cermojoyo. “Lakon itu juga menggambarkan Paku Alam yang baru dalam usahanya membangun kerajaanya untuk mewujudkan ketenteraman serta nguri-uri (merawat) budaya,” kata dia.

Ketua Panitia bidang Kesenian Rakyat, Donny S Megananda mengatakan, pagelaran Pentas Mangayubagya itu akan menjadi penanda permulaan dibukanya kembali pementasan kesenian tradisional yang memang sejak dahulu selalu digelar di Alun-alun Pakualaman secara rutin dua kali dalam sebulan.

Pakar Bahasa: Masyarakat Banjar Patut Terima Kasih kepada Adjim



 redwinbet.com
Pakar Bahasa Daerah Banjar Kalimantan Selatan Prof Dr H Rustan Effendi berpendapat, masyarakat Banjar provinsi ini patut berterimakasih kepada almarhum Datok Mangku Adat (DMA) H Adjim Arijadi.

Pendapat Guru Besar Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin itu pada bedah “Kitab Pantun Bahas Banjar” karya MDA H Adjim Arijadi BSc, di Balai/Taman Budaya Kalimantan Selatan (Kalsel), Rabu (10/02).

Karena, menurut alumnus program doktor pada Unitersiti Utara Malaysia, kelahiran Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel itu, almarhun Adjim semasa hidupnya banyak membuat pantun dalam bahasa daerah Banjar.

“Bahkan almarhum Adjim yang sempat meraih gelar BSc itu menjadikan pantun sebagai media. Dan media ini cakupan dan pengertiannya cukup luas,” lanjut Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unlam tersebut.

Menurut dia, cukup beralasan kalau almarhum Adjim menjadikan pantun sebagai media. Karena walau pantun produk sastra lama tapi mampu hidup dan berkembang hingga era modern.

“Bandingkan saja pantun dengan syair, mantra, peribahasa dan lainnya dalam bentuk kesusastraan lama. Syair, mantra dan peribahasa itu belakangan hampir lenyap, sedangkan pantun terus berkembang,” tuturnya.

Dosen Bahasa Indonesia Sastra Daerah Banjar pada FKIP Unlam itu menilai almarhum Adjim tergolong berani dalam melakukan terobosan, yaitu membuat bentuk pantun bertema.

Karena dalam sastra Indonesia, bentuk pantun bertema itu tidak lazim. Sebab sejumlah pantun yang bait-baitnya mengacu pada tema yang ditentukan, demikian Rustam Effendi.

Sementara itu, dosen bahasa/sastra Indonesia pada Universitas Indonesia (UI) Jakarta Dr Maman S. Mahayana, M.Hum mengapresiasi terhadap almarhum Adjim dengan berbagai karya pantun.

Karena menurut dia, pantun merupakan kekhasan sastra Indpnesia yang tiada duanya dalam dunia sastra.

Oleh sebab itu, tidak heran hampir semua daerah di Indonesia mengenal pantun, seperti di masyarakat Banjar Kalsel, Betawi, Minang Sumatera Barat, dan Papua.

“Hanya saja suansa dari pantun tersebut bebeda dari masing-masing daerah. Tapi pantun juga menjadi media komunikasi,” demikian Maman.

Forum Kilometer Nol Borobudur Helat Tarian Kontemporer


 redwinbet.com

Forum Kilometer Nol Borobudur menggelar kepada publik sejumlah karya tarian kontemporer dengan penari berasal dari sejumlah kota di Pendopo Duniatera dekat Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (14/2) malam.

“Tarian kontemporer terus berproses sehingga semakin diterima oleh publik sebagai suguhan yang menarik,” kata koreografer tari yang juga lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Nungki Nur Cahyani, kepada wartawan, di Borobudur, Minggu (14/2) malam.

Ia mengatakan hal itu setelah menyuguhkan tarian kontemporer berjudul “Gray” dalam rangkaian pementasan hingga menjelang tengah malam itu di Pendopo Duniatera sekitar 500 meter timur Candi Borobudur Kabupaten Magelang.

Saat mementaskan tarian kontemporer “Gray” itu, Nungki seorang diri dengan menggunakan properti “dingklik” dan iringan rekaman musik modern, sedangkan gerakan tubuhnya tampak mengeksplorasi ruang pendopo yang dipenuhi para penonton berasal dari berbagai kalangan, seperti seniman, mahasiswa, penikmat seni, wisatawan Nusantara dan mancanegara, dan beberapa komunitas seniman lainnya, terutama di sekitar Candi Borobudur dan Magelang.

Ia mengatakan penari yang membawakan karya kontemporer tidak melepaskan diri dari penguasaan atas “tarian pakem” untuk kemudian mengembangkan diri dengan tarian berbasis modern.

Pada kesempatan itu, ia menyebut sejumlah koreografer terkenal untuk karya-karya tarian kontemporer, terutama di Solo dan Yogyakarta.

“Kami juga mengalami masa-masa berproses dengan para maestro itu,” ujar Nungki yang pernah menempuh pendidikan lanjutan di Jurusan Media and Cultural Studies Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.

Sejumlah penari dari Grup Nia Dance Klab Yogyakarta yang terdiri atas Dania, Echa Wahyuni, Febri, Rani, Aulia, dan Elviana dengan koreografer Upik Assabti pada pementasan ke-11 FKN Borobudur menampilkan jenis tarian kontemporer “Animal Pop” berjudul “Panggung Menjangan”.

“Karya ini mengeksplorasi binatang menjangan, inspirasinya dari situs Kandang Menjangan (Panggung Krapyak) di Krapyak, Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta,” kata koreografer Upik usai grupnya menyuguhkan karya tersebut.

Karya tari yang mengandalkan gerakan lincah bagian kaki, tangan, dan tubuh bagian atas untuk mengeksplorasi perilaku menjangan.

Situs Kandang Menjangan, katanya, pada masa lampau berupa hutan Krapyak, sebagai lokasi berburu para raja Kerajaan Mataram. Sultan Hamengku Buwono I lebih dari 250 tahun lalu kemudian membangun tempat bernama “Panggung Krapyak” sebagai tempat peristirahatan.

“Tarian Panggung Menjangan menggambarkan suasana perburuan menjangan dengan mengeksplorasi gerak-gerak menjangan dan keprajuritan. Tarian ini memang mengangkat dan mengemas kekayaan akar budaya menjadi lebih menarik,” katanya.

Pada sesi kedua pementasannya, Upik secara perorangan menyuguhkan tarian kontemporer berjudul “fabelogi” yang merupakan kemasan gerakan satwa secara global, antara lain jenis binatang melata, unggas, dan mamalia.

“Tidak spesifik binatang tertentu tetapi geraknya sudah melewati pakem, tidak hanya menyangkut bentuk gerak, tetapi juga menyangkut ruang. Banyak cerita rakyat kita tentang binatang-binatang yang bisa menginspirasi menjadi tarian,” katanya.

Pada kesempatan itu, penari dari Jogja Deaf Dancer Indonesia, Chaca Nini Mranggi, menyuguhkan satu karya gerak tari modern dan kolaborasi dengan iringan rekaman musik modern.

Komunitas Ilmu Sosial dan Seni Universitas Negeri Semarang bersama Grup Bengkel Seni Universitas Tidar Magelang yang terdiri atas Ayu Nur Adilla, Irawati Endar Anjangmas, Laras Nugraheni, Devi Tri Meilinawati, dan Desy Tri Merinawati menyuguhkan tarian Sesonderan dari Jawa Timur yang merupakan gerakan tarian untuk penyambutan tamu

Sultan HB X Sarankan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta Diperpanjang


 redwinbet.com

Gubernur DIY Sri Sultan HB X, menyarankan pelaksanaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta yang selama ini hanya lima hari, diperpanjang menjadi tujuh hari.

“Mengingat banyak peminat kegiatan tahunan ini, akan lebih baik jika waktu pelaksanaan diperpanjang menjadi tujuh hari, sehingga setiap peserta bisa tampil maksimal,” kata Sultan HB X saat membuka Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XI di Yogyakarta, Kamis (18/2).

Menurut dia, alokasi waktu yang hanya diberikan selama lima hari, dinilai masih kurang jika dibanding jumlah peserta yang berminat mengikuti acara tersebut, dan panitia tidak bisa begitu saja membatasi jumlah peserta.

“Peserta sudah berdandan cukup lama, berjam-jam tetapi mereka hanya tampil tiga menit. Tentu tidak sebanding. Perlu waktu yang lebih lama untuk kegiatan ini,” katanya.

Selain menyarankan perpanjangan waktu pelaksanaan PBTY, Raja Keraton Yogyakarta tersebut juga menantang panitia untuk mengembangkan kegiatan agar semakin besar dan tidak hanya diikuti warga DIY saja.

“Kegiatan ini harus bisa berkembang. Salah satunya dengan banyaknya peserta dari luar DIY seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jangan hanya menjadi kegiatan lokal saja,” katanya.

Menurut Sultan, banyaknya peserta dari luar daerah menandakan bahwa kegiatan yang sudah berlangsung selama lebih dari satu dekade tersebut memperoleh apresiasi yang baik dari masyarakat luar daerah.

“Mereka tentu menilai bahwa apresiasi yang diberikan Yogyakarta terhadap budaya Tionghoa cukup besar,” katanya.

Sultan juga berharap agar PBTY menjadi ikon Yogyakarta, tidak hanya ikon artefak budaya tetapi menunjukkan bahwa kebudayaan itu ada dan nyata tumbuh di masyarakat sehingga potensi yang ada harus terus digali dan dijaga kelestariannya.

“PBTY harus bisa menjadi kekuatan budaya yang ditonjolkan dari Yogyakarta,” kata Sultan.

PBTY XI dibuka secara resmi oleh Sri Sultan HB X dengan menyalakan obor yang apinya langsung melesat ke papan yang kemudian muncul angka 2016 dalam bentuk monyet. Monyet menggambarkan shio tahun ini yaitu monyet api.

Belasan Replika Naga Lakukan Ritual ‘Buka Mata’


 redwinbet.com

Sebanyak 13 replika naga yang ada di Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Sabtu (20/02), melakukan ritual “naga buka mata” di Kelenteng Kwan Tie Bio, Jalan Diponegoro, Pontianak.

“Khusus di Kelenteng Kwan Tie Bio, Jalan Diponegoro, Pontianak ada tujuh replika naga yang melakukan ritual naga buka mata, kemudian enam naga lainnya melakukan ritual tersebut di kelenteng masing-masing,” demikian kata Ketua Panitia Perayaan Cap Go Meh Kota Pontianak 2016, Riko Sugiarto, kepada wartawan, di Pontianak.

Ia menjelaskan khusus naga langit akan melakukan ritual naga buka mata di Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, karena naga tersebut memang berasal dari sana, tetapi akan bergabung dalam melakukan atraksinya pada puncak Cap Go Meh, pada Senin (22/2) lusa.

Adapun naga-naga yang telah melakukan ritual buka mata, diantaranya milik perorangan, yakni replika naga Merah Putih, Surya Mas, Mutiara Cakra, Bakti Suci, dan Naga Langit.

Selanjutnya, replika naga milik Yayasan Pemadam Kebakaran (YPK) Siantan, Khatulistiwa, Budi Pekerti, Panca Bhakti, dan dua naga dari MABT (Majelis Adat Budaya Tionghoa), kemudian Naga Perdamaian, dan dari Seni Permainan Naga, Barongsai dan Tatung.

“Ritual naga buka mata tersebut dimulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.30 WIB, sehingga sepanjang Jalan Diponegoro sempat ditutup sementara,” katanya.

Riko menambahkan ritual naga buka mata dipandu seorang suhu yang kerasukan arwah, lalu suhu atau lauya itu yang memberikan tanda merah pada mata replika naga yang berarti mata naga itu telah dibuka dan mempunyai kekuatan atau keajaiban dalam mengusir roh jahat.

“Tradisi ritual naga buka mata dilakukan sebelum naga diarak keliling kota yang rencananya akan dilakukan di kawasan pecinan, yaitu Jalan Gajah Mada, Pahlawan, Tanjungpura dan selesai di Jalan Diponegoro, pada puncak perayaan CGM, pada hari Senin (22/2),” ujarnya.

Ritual naga buka mata dimaksudkan agar naga memberikan keajaiban untuk mengundang naga turun dari kayangan untuk memberikan berkah, dalam membantu masyarakat Kalbar, terhindar dari malapetaka, sehingga diberikan keselamatan dan kebaikan di dunia.

Menurut kepercayaan warga Tionghoa, katanya, ritual buka mata berawal dari cerita dahulu kala di kalangan masyarakat Tionghoa bahwa ada naga yang pernah berkelahi dengan seorang manusia dan terkena panah di bagian mata.

Beruntung, ada biksu yang mengobati dengan berbagai mantra sehingga mata naga dapat sembuh kembali.

Kemudian, setiap naga yang melakukan ritual buka mata, pada hari ke-16 Imlek harus dibakar agar tidak membahayakan keselamatan para pemain naga tersebut, katanya.

Bagi replika naga yang telah menjalani ritual naga buka mata, pada hari ke-16 Imlek, yakni Rabu (23/2), mulai pukul 14.00 WIB, juga haru menjalani ritual naga tutup mata di Kelenteng Kwan Tie Bio.

Selanjutnya akan kembali dengan menjalani ritual bakar naga di Kompleks Pemakaman YBS, Sungai Raya kilometer delapan, Kabupaten Kubu Raya.

Riko berharap Perayaan CGM 2016 yang menampilkan atraksi naga langit sepanjang 100 meter, berkepala besar seukuran mobil minibus, barongsai, dan seni budaya warga Tionghoa lainnya tersebut dapat berdampak positif bagi iklim wisata di Pontianak.

Jaga Budaya dengan Lestarikan Uang Kepeng Bali


 redwinbet.com

Bergerak sealunan detak langkah hari, industri uang kepeng di Klungkung, Bali, tak pernah berhenti menorehkan prestasi. Berbagai penghargaan silih berganti diraih, dari usaha yang justru dibangun di sebuah kampung yang jauh dari hiruk-pikuk derap kehidupan kota.

Beragam prestasi tersebut, antara lain penghargaan dari MURI atas pembuatan uang kepeng terbesar Mei 2007, penghargaan produktivitas dan kualitas Paramakarya oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono di Istana Negara pada 7 Desember 2007 lalu, penghargaan Internasional Seminar For Revitalized Bali’S Development 2008, Penghargaan Upakarti Jasa Pelestarian, Penghargaan Anugerah Industri Hijau oleh Presiden RI di Istana Negara pada 7 Desember 2012 lalu, dan sederet penghargaan lainnya.

“Itu baru sebagian saja dari penghargaan yang diterima industri uang kepeng Kamasan Bali. Penghargaan lain masih banyak, dan kami syukuri sebagai pengakuan terhadap kualitas produk dan managemen usaha yang kami jalankan,” demikian kata I Gede Andika Prayatna Sukma, pemilik usaha uang kepeng Kamasan Bali yang terletak di Banjar Jelantik Kuri Batu, Desa Tojan, Kamasan, Kabupaten Klungkung.

Menurut Andika, mulanya ide pembuatan uang kepeng itu adalah dari pemerintah, atau Gubernur Bali melalui suatu lembaga pelestarian warisan budaya Bali yang dikenal dengan nama Bali Heritage Trust (BHT).

Di mana Bali diharapkan memiliki industri uang kepeng, dikarenakan selalu digunakan sebagai salah satu unsur dalam upacara keagamaan. Bahan baku uang kepeng hendaknya memiliki kandungan panca datu (lima kekuatan hidup yang dipengaruhi oleh kekuatan Panca Dewata). Sebelumnya, upacara-upacara di Bali menggunakan uang kepeng yang terbuat dari seng dengan motif yang tidak jelas.

Uang kepeng di Bali tidak asing lagi, karena pemanfaatannya cukup luas. Hampir di setiap upacara Agama Hindu memakai uang kepeng sebagai salah satu sarana utama.

Berdasarkan ide dari Gubernur Bali, ujar Andika, maka ayahnya I Made Sukma Swacita tercetus niat untuk merealisasikannya dan berangkat ke Jawa untuk mempelajari teknik pencampuran bahan baku panca datu. Terdiri dari besi, perak, tembaga, emas dan perunggu-kuningan.

Setelah sempat malang-melintang di berbagai tempat, dan bahkan beberapa tokoh menyatakan mustahil untuk melakukan pencampuran terhadap lima bahan baku logam itu, akhirnya perjalanan Made Sukma tiba di daerah Pati. Pada sebuah tempat pengecoran logam, di mana kemudian Made Sukma belajar selama dua minggu. Setelah masa pembelajaran usai, Made Sukma kembali ke Bali dan meneguhkan niat untuk mendalami usaha uang kepeng.

“Ayah kemudian mendirikan usaha di Klungkung. Ketika membangun tempat usaha, sekaligus langsung memproduksi uang kepeng. Ini dikarenakan mendapat order dari pemerintah sebanyak 300 ribu keping untuk dibagikan ke desa-desa adat,” kata Andika.

Ketika order telah selesai, maka uang kepeng itu dibagikan kepada 1.417 desa adat se-Bali. Masing-masing desa adat mendapatkan satu ikat uang kepeng yang terdiri atas 200 keping atau istilah masyarakat Bali adalah “satakan”. Pembagian uang kepeng itu dilakukan di Pura Puncak Mangu, Kabupaten Badung.

Desain pertama dari uang kepeng bermotif tulisan lima huruf suci (panca aksara). Masing-masing adalah huruf (Sa), bertempat di arah timur dengan warna putih, bahan logam perak, dan simbol kekuatan Dewa Iswara. Huruf (Ba), bertempat di arah selatan dengan warna merah, bahan logam tembaga, melambangkan kekuatan Dewa Brahma.

Huruf (Ta), bertempat di arah barat dengan warna kuning, bahan logam emas, lambang kekuatan Dewa Mahadewa. Huruf (a), bertempat di arah utara dengan warna hitam, bahan logam besi, lambang kekuatan Dewa Wisnu. Terakhir huruf (i), bertempat di arah tengah dengan warna berwarna-warni, bahan logam perunggu atau kuningan, melambangkan kekuatan Dewa Siwa.

Desain kedua uang kepeng adalah bermotif padma (teratai). Dalam desain ini padma sebagai bunga teratai yang melambangkan kesucian. Daunnya berjumlah delapan helai atau yang sering disebut dengan asta dala, dan di bagian tengah sebagai pusat perputaran.

Bahan Baku dari Pemulung Dikatakan Andika, setelah uang kepeng mulai dikenal dan selalu mendapat order dari masyarakat, maka industri uang kepeng Kamasan Bali memunculkan ide untuk mengembangkan produk-produk baru seperti patung uang kepeng, patung pretima cor, daksina linggih, salang, lamak, tamiyang, capah, bandrang, pabuan, alat-alat peselang, tombak, trisula, keris, senjata dewata nawa sanga, dan ada juga yang berupa uang kepeng jimat.

“Sampai saat ini masyarakat sangat merespon dengan keberadaan produk-produk uang kepeng ini, terutama masyarakat yang akan melakukan upacara agama. Omzet rata-rata mencapai Rp50 juta per bulan. Kadang ada order dari pemerintah yang nilainya mencapai Rp500 juta,” ujar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Udayana ini.

Setiap hari, industri uang kepeng ini dapat memproduksi sebanyak 10 ribu keping, dengan dikerjakan oleh 35 orang karyawan, yang berasal dari wilayah Klungkung.

Bahan baku berupa didapatkan dari pengepul atau pemulung yang dalam sehari menyetorkan 200 kilogram berbagai logam bekas, mayoritas merupakan logam jenis kuningan. Pada proses pembuatan uang kepeng, 75 persen bahan memang terbuat dari kuningan.

“Syukur order tidak pernah putus. Bahan baku pun tidak pernah ada kendala. Justru yang menjadi kendala adalah sumber daya manusia (SDM), karena hampir setiap hari ada saja karyawan yang minta izin karena urusan adat dan lainnya,” kata ia.

Dia melanjutkan, jika ada order banyak dan karyawan ditawari kerja lembur, lebih banyak yang keberatan. Padahal jika kerja lembur, tentu uang yang didapatkan lebih besar.

“Anehnya justru tidak ada yang mau lembur. Ini repotnya jika ada order berlimpah. Kami sejauh ini menyiasati dengan cara setiap karyawan harus memiliki dua atau tiga ‘skill’ sehingga kalau ada order banyak, bisa mengerjakan beberapa hal,” ujar dia.

Andika menegaskan, meski ada kendala, tapi sudah menjadi komitmennya untuk melanjutkan tongkat estafet usaha uang kepeng ini agar berkelanjutan. Sebagai langkah melestarikan warisan budaya, sehingga uang kepeng tetap lestari keberadaannya.

“Keberadaan uang kepeng di Bali sangat penting untuk keperluan upacara agama maupun untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pembuatan patung dan hiasan rumah serta aksesoris. Dulu, uang kepeng ini didatangkan dari Negara Tiongkok dengan mengimpor, karena keberadaan uang kepeng di Bali makin hari kian langka dan juga harganya terus melambung tinggi,” kata ia menutup pembicaraan.

Kamis, 25 Februari 2016

Tari Tor Tor Seni Budaya Sumatera Utara

Tari Tor Tor Seni Budaya Sumatera Utara

 
Tari Tor Tor Suku Batak
Kategori: Seni Budaya | Area:
Ketika kita dengar kata “Tor Tor Batak” maka kita akan membayangkan sekelompok orang (Batak Toba) yang menari (manortor) diiringi seperangkat alat musik tradisional (gondang sabangunan), dengan gerakan tari yang riang gembira, melenggak-lenggok yang monoton, yang diadakan pada sebuah pesta suka maupun duka di wilayah Tapanuli. Tari Tor Tor ini juga sangat terkenal sampai ke penjuru dunia, ini terbukti dari banyaknya turis manca negara maupun lokal yang ingin belajar tarian ini, hal ini dikarenakan masyarakat Batak yang pergi merantau pun dengan bangga selalu menampilkan Tari Tor Tor Sumatera Utara ini dalam acara perhelatannya.
Tari Tor Tor merupakan salah satu jenis tari yang berasal dari suku Batak di Pulau Sumatera. Sejak sekitar abad ke-13, Tari Tor Tor sudah menjadi budaya suku Batak. Perkiraan tersebut dikemukakan oleh mantan anggota anjungan Sumatera Utara 1973-2010 dan pakar Tari Tor Tor. Dulunya, tradisi Tor Tor hanya ada dalam kehidupan masyarakat suku Batak yang berada di kawasan Samosir, kawasan Toba dan sebagian kawasan Humbang. Namun, setelah masukknya Kristen di kawasan Silindung, budaya ini dikenal dengan budaya menyanyi dan tarian modern. Di kawasan Pahae dikenal dengan tarian gembira dan lagu berpantun yang disebut tumba atau juga biasa disebut Pahae do mula ni tumba.
Sebelumnya, tarian ini biasa digunakan pada upacara ritual yang dilakukan oleh beberapa patung yang terbuat dari batu yang sudah dimasuki roh, kemudian patung batu tersebut akan “menari”.
Jenis Tari Tor Tor:
  • Tor Tor Pangurason yaitu tari pembersihan yang dilaksanakan pada acara pesta besar. Namun sebelum pesta besar tersebut dilaksanakan, lokasi yang akan digunakan untuk acara pesta besar wajib dibersihkan dengan media jeruk purut. Ini diperuntukkan, pada saat pesta besar berlangsung tidak ada musibah yang terjadi.
  • Tor Tor Sipitu Cawan atau disebut juga Tari Tujuh Cawan. Tor Tor ini dilaksanakan pada acara pengangkatan raja. Tor Tor Sipitu Cawan menceritakan 7 putri yang berasal dari khayangan yang turun ke bumi dan mandi di Gunung Pusuk Buhit dan pada saat itu juga Pisau Tujuh Sarung (Piso Sipitu Sasarung) datang.
  • Tor Tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Kemudian ada Tor Tor Tunggal Panaluan yang dilaksanakan pada saat upacara ritual apabila suatu desa sedang dilanda musibah. Untuk Tor Tor ini, penari dilakukan oleh para dukun untuk mendapatkan petunjuk dalam mengatasi musibah tersebut.
Sekarang ini Tari Tor Tor menjadi sebuah seni budaya bukan lagi menjadi tarian yang lekat hubungannya dengan dunia roh. Karena seiring berkembangnya zaman, Tor Tor merupakan perangkat budaya dalam setiap kehidupan adat suku Batak.
Penari Tor Tor SumateraDalam hal tata busana tari Tor Tor sangatlah sederhana. Seseorang yang ingin menari Tor Tor dalam sebuah pesta yang diikuti, cukup dengan memakai ulos yang merupakan tenunan khas Batak. Ulos yang digunakan ada dua macam, ulos untuk ikat kepala dan ulos untuk selendang. Namun motif ulos yang akan digunakan harus sesuai dengan pesta yang diikuti.
Selain sederhana dalam hal busana, Tor Tor juga sederhana dalam hal gerakan. Gerakan tangan dan kaki yang cukup terbatas merupakan salah satu ciri tarian Tor Tor Sumatera Utara. Hentakan kaki dari penari bergerak mengikuti iringan magondangi. Magondangi sendiri terdiri dari berbagai alat musik tradisional yaitu gondang, tagading, suling, terompet batak, ogung (doal, panggora, oloan), sarune, odap gordang dan hesek. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa gerak Tor Tor Batak berbeda dalam setiap jenis musik yang diperdengarkan dan berbeda pula gerak Tor Tor laki-laki dan gerak Tor Tor perempuan. Menurut para pemerhati Tor Tor, bahwa Tor Tor yang dilakonkan juga dibedakan antara Tor Tor Raja dengan Tor Tor Natorop. Sementara perangkat lain dalam acara tortor Batak biasanya harus ada orang yang menjadi pemimpin kelompok Tor Tor dan pengatur acara/juru bicara (paminta gondang), untuk yang terakhir ini sangat dibutuhkan kemampuan untuk memahami urutan gondang dan jalinan kata-kata serta umpasa dalam meminta gondang.
Bagaimanapun juga, Tor Tor Batak adalah identitas seni budaya masyarakat Batak yang harus dilestarikan dan tidak lenyap oleh perkembangan zaman dan peradaban manusia. Tari Tor Tor Batak mengandung nilai-nilai etika, moral dan budi pekerti yang perlu ditanamkan kepada generasi muda. Dan ini merupakan tugas kita bersama sebagai warga negara Indonesia agar tidak ada lagi seni budaya asli peninggalan nenek moyang bangsa kita yang diklaim oleh negara lain.

Sejarah Batik

Sejarah Batik     PDF Print E-mail


 
Pengertian Batik
Batik merupakan budaya yang telah lama berkembang dan dikenal oleh masyarakat Indonesia. Kata batik mempunyai beberapa pengertian. Menurut Hamzuri dalam bukunya yang berjudul Batik Klasik, pengertian batik merupakan suatu cara untuk memberi hiasan pada kain dengan cara menutupi bagian-bagian tertentu dengan menggunakan perintang. Zat perintang yang sering digunakan ialah lilin atau malam.kain yang sudah digambar dengan menggunakan malam kemudian diberi warna dengan cara pencelupan.setelah itu malam dihilangkan dengan cara merebus kain. Akhirnya dihasilkan sehelai kain yang disebut batik berupa beragam motif yang mempunyai sifat-sifat khusus.
Secara etimologi kata batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu”tik” yang berarti titik / matik (kata kerja, membuat titik) yang kemudian berkembang menjadi istilah ”batik” (Indonesia Indah ”batik”, 1997, 14). Di samping itu mempunyai pengertian yang berhubungan dengan membuat titik atau meneteskan malam pada kain mori. Menurut KRT.DR. HC. Kalinggo Hanggopuro (2002, 1-2) dalam buku Bathik sebagai Busana Tatanan dan Tuntunan menuliskan bahwa, para penulis terdahulu menggunakan istilah batik yang sebenarnya tidak ditulis dengan kata”Batik” akan tetapi seharusnya”Bathik”. Hal ini mengacu pada huruf Jawa ”tha” bukan ”ta” dan pemakaiaan bathik sebagai rangkaian dari titik adalah kurang tepat atau dikatakan salah. Berdasarkan etimologis tersebut sebenarnya batik identik dikaitkan dengan suatu teknik (proses) dari mulai penggambaran motif hingga pelorodan. Salah satu yang menjadi ciri khas dari batik adalah cara pengambaran motif pada kain ialah melalui proses pemalaman yaitu mengoreskan cairan lilin yang ditempatkan pada wadah yang bernama canting dan cap.

Sejarah Perkembangan Batik
Ditinjau dari perkembangan, batik telah mulai dikenal sejak jaman Majapahit dan masa penyebaran Islam. Batik pada mulanya hanya dibuat terbatas oleh kalangan keraton. Batik dikenakan oleh raja dan keluarga serta pengikutnya. Oleh para pengikutnya inilah kemudian batik dibawa keluar keraton dan berkembang di masyarakat hingga saat ini. Berdasarkan sejarahnya, periode perkembangannya batik dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Jaman Kerajaan Majapahit
Berdasarkan sejarah perkembangannya, batik telah berkembang sejak jaman Majapahit. Mojokerto merupakan pusat kerajaan Majapahit dimana batik telah dikenal pada saat itu. Tulung Agung merupakan kota di Jawa Timur yang juga tercatat dalam sejarah perbatikan. Pada waktu itu, Tulung Agung masih berupa rawa-rawa yang dikenal dengan nama Bonorowo, dikuasai oleh Adipati Kalang yang tidak mau tunduk kepada Kerajaan Majapahit hingga terjadilah aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahit. Adipati Kalang tewas dalam pertempuran di sekitar desa Kalangbret dan Tulung Agung berhasil dikuasai oleh Majapahit. Kemudian banyak tentara yang tinggal di wilayah Bonorowo (Tulung Agung) dengan membawa budaya batik. Merekalah yang mengembangkan batik. Dalam perkembangannya, batik Mojokerto dan Tulung Agung banyak dipengaruhi oleh batik Yogyakarta. Hal ini terjadi karena pada waktu clash tentara kolonial Belanda dengan pasukan Pangeran Diponegoro, sebagian dari pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri ke arah timur di daerah Majan. Oleh karena itu, ciri khas batik Kalangbret dari Mojokerto hampir sama dengan batik Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua.

Jaman Penyebaran Islam
Batoro Katong seorang Raden keturunan kerajaan Majapahit membawa ajaran Islam ke Ponorogo, Jawa Timur. Dalam perkembangan Islam di Ponorogo terdapat sebuah pesantren yang berada di daerah Tegalsari yang diasuh Kyai Hasan Basri. Kyai Hasan Basri adalah menantu raja Kraton Solo. Batik yang kala itu masih terbatas dalam lingkungan kraton akhirnya membawa batik keluar dari kraton dan berkembang di Ponorogo. Pesantren Tegalsari mendidik anak didiknya untuk menguasai bidang-bidang kepamongan dan agama. Daerah perbatikan lama yang dapat dilihat sekarang adalah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan meluas ke desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut.

Batik Solo dan Yogyakarta
Batik di daerah Yogyakarta dikenal sejak jaman Kerajaan Mataram ke-I pada masa raja Panembahan Senopati. Plered merupakan desa pembatikan pertama. Proses pembuatan batik pada masa itu masih terbatas dalam lingkungan keluarga kraton dan dikerjakan oleh wanita-wanita pengiring ratu. Pada saat upacara resmi kerajaan, keluarga kraton memakai pakaian kombinasi batik dan lurik. Melihat pakaian yang dikenakan keluarga kraton, rakyat tertarik dan meniru sehingga akhirnya batikan keluar dari tembok kraton dan meluas di kalangan rakyat biasa.
Ketika masa penjajahan Belanda, dimana sering terjadi peperangan yang menyebabkan keluarga kerajaan yang mengungsi dan menetap di daerah-daerah lain seperti Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah timur Ponorogo, Tulung Agung dan sebagainya maka membuat batik semakin dikenal di kalangan luas.

Batik di Wilayah Lain
Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja. Pada tahun 1830 setelah perang Diponegoro, batik dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro yang sebagian besar menetap di daerah Banyumas. Batik Banyumas dikenal dengan motif dan warna khusus dan dikenal dengan batik Banyumas. Selain ke Banyumas, pengikut Pangeran Diponegoro juga ada yang menetap di Pekalongan dan mengembangkan batik di daerah Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo.
Selain di daerah Jawa Tengah, batik juga berkembang di Jawa Barat. Hal ini terjadi karena masyarakat dari Jawa Tengah merantau ke kota seperti Ciamis dan Tasikmalaya. Daerah pembatikan di Tasikmalaya adalah Wurug, Sukapura, Mangunraja dan Manonjaya. Di daerah Cirebon batik mulai berkembang dari keraton dan mempunyai ciri khas tersendiri.